DIA YANG
"RAHASIA"
Membuka sebuah hati
Setelah sang hati tersakiti
Membuka diri
Setelah diri ini membisu sunyi
Awal yang indah saat mentari mulai mengayunkan diri pada bumi. Menandakan hari telah berganti. Begitu pula dengan hati, telah berganti sandaran. Itu adalah KAMU. Iya, KAMU. Kamu adalah seseorang yang bisa membuat aku lupa padanya, lupa bagaimana dia menyakiti ku, lupa bagaimana wajahnya, dan lupa bagaimana rasa cintaku padanya. Kamu adalah definisi tampan bagiku. Kamu tau kenapa? Karena kamu tidak pernah ingin menjadi orang lain, karena itulah kamu. Diri kamu sendiri, manis dan juga tampan.
Bertemu dengan mu di bulan puasa, sama-sama berjuang menahan lapar, haus, dan juga nafsu. Begitu juga aku, yang harus menahan dag dig dug hati setiap mata berpaling padamu. Mungkin belum masuk dalam tahap cinta, hanya saja kagum dan terpesona saat melihatmu. Tapi itulah rasanya, berdebar sangat kencang. Menahan rasa hati itu sangatlah susah, apalagi rasa yang kian menguat.
Tibalah di hari puncak, dimana acara besar yang kamu bina datang. Mungkin kamu masih ingat, lomba Kampung KB se Jatim. Aku menjadi salah satu yang terlibat bersama orang hebat lainnya, bermain teater dengan adik-adik lain. Di lain sisi, disaat aku tampil di bagian ku, dengan sedikit malu kucuri pandang padamu. Karena aku ingin tahu bagaimana ekspresimu saat aku berdialog seperti itu. Malu memang, tapi sudah konsekuensi. Tapi kamu tersenyum dengan manis seperti biasa, tapi berbeda. Karena kamu tersenyum padaku, hatiku sudah mulai tidak normal. Terasa aneh tapi juga menyenangkan. Menyukaimu secara diam-diam adalah cara ku mengagumimu.